RUU Otsus Plus Papua Perlu Diperjuangkan Sekarang Juga

Posted in Uncategorized on December 7, 2015 by admin

Markus Bugaleng prihatin. Tokoh suku Amungme, Mimika, Papua ini sedih atas kehidupan warganya yang tak kunjung lepas dari kemiskinan. Persoalan gizi buruk dan kemiskinan luar biasa masih menghantui wilayahnya yang berada di sekitar tambang Freeport,  Tambang emas terbesar di dunia asal Amerika. “Keberadaan Freeport di daerah kami tidak membawa kesejahteraan terhadap masyarakat, utamanya bagi suku Amungme dan suku Komoro,” tutur Markus. Dua suku inilah pemilik tanah yang berlimpah tembaga dan emas itu.

Di sisi lain, kini Ketua DPR malah terlihat berupaya menjual kedaulatan dan kekayaan Papua dengan cawe cawe hendak membagi rata saham Freeport dan mencatut nama presiden.

Mati rasa DPR atas nasib rakyat, terutama di Papua tampaknya sudah mencapai puncak. Berbagai konspirasi jahat sudah dipertontonkan tanpa rasa bersalah. Mulai dari upaya mencatut nama Presiden di Kontrak Freeport, hingga menjegal RUU Otsus Plus Papua yang sudah berkali-kali dilakukan sejak tahun 2010.

Padahal UU Otsus Papua yang ada sudah tidak akomodatif dan relevan lagi untuk kondisi Papua terkini.  RUU Otsus Plus Papua yang sudah bertahun-tahun diperjuangkan rakyat dan perwakilan Papua tersebut selalu menghilang dari agenda Prolegnas, sehingga belasan tahun mereka harus bersedih karena tidak bisa mengendalikan dan mengatur sendiri pemanfaatan sumber daya alamnya untuk bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan Rakyat Papua.

Sungguh sedih, nasih RUU Otsus Plus Papua… Hilang sudah impian untuk bisa sejahtera.

http://www.kompasiana.com/malikasalsabila/sidang-mkd-di-ujung-tanduk-masihkah-kita-percaya-dpr_56654c772c7a61f20ea0b4c3

 http://www.kompasiana.com/malikasalsabila/innalillahi-sementara-papa-minta-saham-inilah-derita-masyarakat-papua-di-sekitar-freeport_565e121b0f9773ca0d37dacf

Advertisements

Ada Hendi Prio Santoso, Calo Tidak Punya Tempat di Gas

Posted in Uncategorized on November 21, 2015 by admin

PGN kini berdiri dengan paradigma baru yang dibangun oleh Dirutnya Hendi Prio Santoso yaitu Calo? No way! Sikap ini dibentuk menjadi komitmen dengan pembuatan dan pelaksaan kode etik di PGN. Kode etik ini nantinya akan mengikat karyawan, manajemen, dan pimpinan PGN sehingga menutup peluang korupsi.

PGN telah menyusun kode etik karyawan yang diterbitkan sebagai “Kode Etik Karyawan” dan “Kode Etik Pimpinan”, ujar Hendi Prio Santoso dengan tegas. “Hal ini dengan memberikan panduan praktis tentang cara menangani konflik kepentingan, korupsi, suap, gratifikasi, manajemen informasi dan lain-lain. Melalui kode etik ini pula,” lanjut pria berusia 48 tahun ini. Akibatnya, calo tidak akan punya celah.

Di tangan dinginnya, PGN menjelma menjadi perusahaan menguntungkan dan terbuka serta transparan. Bayangkan saja, tahun 2014 PGN mencatatkan pendapatan neto sebesar USD 3,41 miliar naik 13,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu USD 3,00 miliar. Laba operasi sebesar USD 982,06 juta naik 5,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu USD 933,35 juta dan EBITDA sebesar USD 1,16 miliar naik 3,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu USD 1,12 miliar. Selama tahun 2014 PGN membukukan laba bersih sebesar USD 722,75 juta.

Semoga Hendi Prio Santoso berhasil memberantas calo dan korupsi dari dunia Migas Indonesia!

Kartika Djoemadi Ikut Berperan dalam Konservasi Warisan Budaya Batik               

Posted in Uncategorized on November 9, 2015 by admin

Kartika Djoemadi, atau dikenal juga dengan nama Dyah Kartika Rini Djoemadi, seorang pengusaha yang juga pembina kelompok relawan, ternyata memiliki ketertarikan besar atas dunia batik Indonesia. Hal tersebut diwujudkannya dengan terlibat aktif menjadi model dalam buku karangan Miranti Ginanjar Serad berjudul Batik Kudus The Heritage’s Book. Dalam buku ini, Kartika Djoemadi tampak cantik dan serasi dengan kebaya plus motif batik yang digunakan.

Batik Kudus adalah salah satu warisan budaya berharga yang esensial untuk dilestarikan agar keindahannya bisa bertahan ke generasi selanjutnya. Batik bisa bertahan jika generasi muda masih tertarik menggunakan dan memproduksinya. Kartika Djoemadi sendiri memiliki banyak koleksi batik dan masih digunakannya di berbagai kesempatan dan acara besar. Meskipun demikian, sebenarnya hobi ini bisa saja dilakukan tanpa harus banyak mengeluarkan biaya, karena ia masih menemukan batik antik seharga 75 ribu rupiah, namun bisa pula sangat mahal karena yang ia temukan modelnya yang vintage dan unique.

Kita harapkan batik kudus bisa terus lestari dan dipakai oleh generasi muda Indonesia.

Masa Kecil Edi Purwanto yang Penuh Perjuangan

Posted in Uncategorized on October 27, 2015 by admin

Di balik kesuksesan yang kini melambungkan namanya, Edi Purwanto ternyata menyimpan kenangan sedih selama masa kecilnya, terutama saat bersekolah. Ia harus mengikuti salah seorang kerabat, Pak Badrun. Sembari sekolah maka siang hari ia harus membantu Pak Badrun di kebun, dan malam hari belajar mengaji. “Nak Edi orangnya rajin. Sekolah rajin, ngaji rajin, kalau disuruh ke kebun mau, motong karet mau. Anaknya juga sopan dan penurut,” kata Pak Badrun memberi kesaksian.

Ini karena di masa kecilnya, keluarga kecil Edi sangat tidak mampu. Ia terpaksa mencari sendiri uang sekolah dan penghidupan. Dengan demikian, sedari kecil Edi Purwanto telah ditempa hidup yang demikian keras. Bahkan dalam suatu waktu, ia sesekali mencuci botol limun untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya.

Karena itulah, kini Edi Purwanto bercita-cita mengangkat hidup rakyat Jambi dari yang paling kecil sekalipun. Ia maju menjadi calon wakil gubernur mendampingi Hasan Basri Agus. Dengan demikian, ia bisa terlibat dalam pembangunan SDM dan SDA Provinsi jambi 5 tahun ke depan. Kita doakan saja agar Edi Purwanto sukses dengan impiannya.

Sumber:

http://metrojambi.com/read/2015/10/27/4719/ini-kata-pengasuh-soal-masa-kecil-edi-purwanto

http://id.wikipedia.org/wiki/Edi_Purwanto 

Hasan Basri Agus dan Edi Purwanto: Akhirnya Ada Pasangan Petarung di Pilkada Jambi

Posted in Uncategorized on August 5, 2015 by admin

Tak seperti biasanya, Jambi selalu memunculkan pasangan petarung di Pilkada. Biasanya, keluarga atau patron tertentu muncul menguasi dunia perebutan kekuasaan. Namun Hasan Basri Agus dan Edi Purwanto kini maju sebagai pasangan yang terbukti pekerja keras, bukan mengandalkan kekuasaan kekeluargaan dan penampilan fisik saja.

Hasan Basri Agus adalah tipe birokrat berpengalaman yang sanggup bekerja keras mewujudkan pelayanan terbaik bagi rakyatnya. Sebelumnya ia menjabat Sekda di Provinsi Jambi. Di Bawah pemerintahannya, Provinsi Jambi mendapat berbagai penghargaan baik level nasional maupun internasional. Ia sendiri memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Utama, penghargaan tertinggi bagi rakyat sipil di Indonesia.

Sementara Edi Purwanto adalah pengusaha yang ulet. Dari jeratan kemiskinan akibat ayahnya dicekik oleh hutang, Edi berjuang membiayai sendiri sekolahnya dengan kerja serabutan. Kerja kerasnya berbuah manis saat sukses mendirikan usaha percetakan dan advertising, CV Madani Utama. Ia pintar berpolitik, sehingga maju sampai Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi.

Kini keduanya berjuang untuk mewujudkan perubahan bagi Provinsi Jambi. Tentu yang diandalkan adalah kinerja, prestasi, dan kemampuan berempati, bukan sekedar selebritas maupun adu ganteng. Mampukah rakyat Jambi memilih yang terbaik? Harusnya mampu!

Sumber:

http://pilkada2015.org/post/125583562584/hasan-basri-agus-dan-edi-purwanto-calon-petarung

http://kisahpengusaha.org/post/125473740663/edi-purwanto-dari-bawah-menggeliat-bangun-usaha

Maxi Gunawan: Dunia Usaha, Legislatif, dan Pemerintah Harus BersatuSum

Posted in Uncategorized on July 5, 2015 by admin

Calon kuat Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Maxi Gunawan, menyatakan  bahwa  agar dunia usaha mampu berkembang, diperlukan pemahaman bersama antara pemerintah, legislatif serta pengusaha. Ini adalah perubahan pola pikir jika dibandingkan dengan masa lalu yang cenderung memisah-misahkan antara politik dan pemerintahan dengan dunia bisnis.

Lebih lanjut Maxi menyatakan bahwa ketiga elemen tersebut harus duduk bersama menciptakan solusi untuk memecahkan masalah ekonomi saat ini.

“Kita mengimbau kepada legislatif agar semua usulan kebijakan-kebijakan yang akan diusulkan kepada pemerintah dari bidang ekonomi agar dapat bersinergi antara pemerintah, parlemen serta dunia usaha. Dari sinergi ketiga kekuatan itu yang membuat negara kita bisa semakin bagus,” kata Maxi.

Ketua Komite Tetap Kerjasama Internasional di Kadin ini juga berharap bahwa dunia usaha berhenti terus-terusan meratapi masa lalu yang pernah terjadi, yaitu krisis di tahun 1998 dan 2008. Sebaliknya hal tersebut harus dijadikan motivasi untuk menjadi lebih baik di masa depan.

“Kita tak bisa melihat ke belakang lagi, tapi harus ke depan yaitu kita harus bersatu Pemerintah dan Kadin, kepada seluruh pengusaha-pengusaha di seluruh Tanah Air ini untuk bersama-sama melihat di mana kelemahan-kelemahan yang terjadi selama ini,” paparnya.

“Sekarang ini yang harus kita perkuat adalah ketahanan pangan, ketahanan energi juga jadi apalagi sekarang juga ada program maritim. Itu semua yang harus kita perkuat. Kadin bersama pemerintah harus duduk bersama-sama untuk mencari solusi bagaimana semuanya itu dapat dipecahkan dan dicari solusinya,” pungkas Maxi.

Sumber: http://www.beritasatu.com/makro/288440-maxi-gunawan-dunia-usaha-pemerintah-dan-legislatif-harus-bersatu.html

Maxi Gunawan: Pemerintah Sudah Saatnya Bentuk Bank Infrastruktur

Posted in Uncategorized on June 9, 2015 by admin

green

Sehubungan dengan semakin menguatnya ide green infrastructure, terkait pelaksanaan event Indonesia Green Infrastructure Summit 2015 oleh Kadin Indonesia, maka menguat pula desakan untuk membuat Bank Infrastruktur.

“Pemerintah sebaiknya membentuk bank infrastruktur dengan sumber pembiayaan dari obligasi dan penyertaan modal negara, sehingga dapat memberikan kelangsungan modal bagi bank tersebut agar konsisten dalam mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ungkap Maxi Gunawan, salah seorang calon kuat Ketua Umum Kadin 2015,  dalam acara tersebut, sebagaimana tertera dalam press releasenya kepada wartawan pada hari Selasa, 9 Juni 2015 di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta.

Selama ini dirasakan bahwa kinerja belanja infrastruktur selama ini masih belum optimal. Contohnya saja dilihat dari alokasi anggaran infrastruktur yang tidak lebih dari 3% dari PDB dengan pola penyerapan yang menumpuk pada akhir tahun (kuartal keempat) serta kurangnya sinergi koordinasi antara kementerian, lembaga, dan daerah.  “Semestinya anggaran infrastruktur yang ideal berkisar antara 5%-6% dari PDB,” katanya. Karena itulah, menurutnya Kadin harus bekerja sama dengan pemerintah mencari alternatif solusi terbaik tentang skema pembiayaan infrastruktur yang selama ini selalu menjadi masalah. Salah satu alternatifnya, kata dia, adalah dengan mendirikan bank infrastuktur. Dengan demikian, pengusaha bisa mendapatkan pinjaman jangka panjang, sesuai dengan karakteristik pendanaan proyek yang dibangun yang membutuhkan waktu jangka panjang dalam pengembalian nilai investasinya.

Saat ini sudah ada Perpres No. 38 Tahun 2015 tentang kerja sama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur untuk menjembatani swasta dan pemerintah dalam hal pendanaannya. “Dengan pola-pola semacam ini tentu harapannya dapat mempercepat pembangunan infrastruktur,” tegas Maxi Gunawan.

Selain itu, kata Maxi lagi, perlu melibatkan partisipasi peran dan kerja sama pihak swasta (investor swasta), “private equity” dan sektor perbankan dalam pendanaan proyek infrastruktur yang membutuhkan sumber pembiayaan besar.

Dalam konteks ini, “Kadin harus mendorong pemerintah untuk melakukan peralihan dari skema pembiayaan yang saat ini lebih berfokus pada APBN dan APBD ke arah kerja sama sektor publik dan swasta,” tambahnya.