Heboh Ahmadiyah belakangan bikin saya geli sendiri. Saya lihat diskusinya sudah melebar ke mana-mana. Bahkan seorang Ketua MPR yang seharusnya lebih banyak mengurusi aspirasi rakyat tiba-tiba turun gunung ikut-ikut komentar. Tidak ketinggalan “nabi” blog seperti mas guh ikut-ikutan membahas.
Satu hal saja yang saya pertanyakan: Entah Tuhan itu satu, dua, tiga, ataukah masing-masing orang punya Tuhannya sendiri yang eksklusif, ataukah sebenarnya cuma ada satu Tuhan yang sosialis sama rata sama rasa, sejujurnya apa sih yang sedang kita ributkan?
Tidakkah masalah pahala-dosa, sesat-tak sesat, kafir-tak kafir, pintar-bodoh, itu sebenarnya wilayah kekuasaan Tuhan? Bukankah keberadaaan Tuhan yang sebenarnya hanya Tuhanlah yang tahu? Bisa saja ada sebuah “keluarga besar” di langit sana. Bisa pula hanya ada satu Tuhan yang kesepian di singgasananya yang megah. Mengapa tiba-tiba kita semua mendebatkannya? Apa urusan kita?
Lah Tuhan seharusnya berbuat sesuka hatinya, termasuk saat menumbuhkan aliran-aliran sesat untuk menggoda hati orang-orang beriman. Adakah yang salah? Seandainya Ahmadiah itu memang sesat, apakah keinginan Tuhan itu harus ditentang? Ataukah sebaliknya Ahmadiyah harus susah-susah dibela?
Dan di akhir cerita, saya membayangkan Tuhan di atas sana tertawa-tawa, menyeruput kopi dan menggigit pisang goreng kesukaannya sambil berkata:
“GITU AJA KOK REPOT?!”